Dua Tragedi Kecelakaan Pesawat Yang Melibatkan Tim Sepakbola

Dua Tragedi Kecelakaan Pesawat Yang Melibatkan Tim Sepakbola

Ada beberapa hal yang mungkin akan selalu diingat dalam sejarah sepakbola; namun tidak semua tentang sukses atau kegagalan sebuah klub. Tragedi yang dialami sebuah klub juga menjadi sebuah bagian sejarah dunia sepakbola yang tidak mungkin dilupakan. Beberapa klub besar pernah mengalami masa surut karena tragedi yang menimpa mereka; salah satunya adalah Manchester United setelah terjadinya kecelakaan pesawat terbang di Munich pada tanggal 6 Februari 1958. Terdapat 8 pemain Manchester United yang meninggal pada kecelakaan tersebut; sedangkan beberapa pemain yang selamat kemudian memutuskan untuk gantung sepatu dan mengakhiri karir sepakbola mereka. Tragedi lain yang tidak kalah tragis dialami oleh klub asal Brazil Chapecoense yang kehilangan hampir seluruh pemain mereka pada kecelakaan pesawat tanggal 28 November 2016 saat menuju partai final Copa Sudamericana 2016.

Dua Tragedi Kecelakaan Pesawat Yang Melibatkan Tim Sepakbola

Tragedi Manchester United Di Munich Tahun 1958

Kecelakaan yang dialami oleh tim Manchester United di Munich, Jerman Barat pada waktu itu, pada tanggal 6 Februari 1958. Peristiwa tersebut terjadi ketika tim Manchester United akan kembali ke Inggris usai berlaga di ajang Piala Eropa melawan Red Star Belgrade di Yugoslavia. Pada waktu itu tidak ada penerbangan langsung dari Belgrade menuju Inggris yang dilayani oleh maskapai penerbangan Airspeed Ambassador dengan kelas Elizabethan. Cuaca buruk menjadi salah satu penyebab kecelakaan yang terjadi; masalah pada salah satu mesin juga disebut – sebut sebagai faktor lain yang menyebabkan kecelakaan terjadi. Pilot James Thain yang didampingi oleh Kenneth Rayment sempat dua kali berusaha menerbangkan pesawat di atas landasan bandara Munich-Riem yang dilapisi oleh serpihan es setelah mengisi ulang bahan bakar. Upaya tersebut namun gagal karena ada masalah pada mesin di sisi sebelah kiri. Kapten James Thain kemudian memutuskan untuk melakukan percobaan ketika karena tidak ingin tertinggal jadwal dan menghindari menginap satu malam di Munich.

Tragedi-Manchester-United-Di-Munich-Tahun-1958

Upaya penerbangan yang ketiga gagal ketika pesawat terpeleset di ujung landasan yang tertutup es. Sayap pesawat Airspeed AS-57 Ambassador sebelah kiri patah karena menghantam rumah. Untuk menghindari resiko pesawat yang meledak; seluruh penumpang kemudian dievakuasi dari pesawat. Harry Gregg yang merupakan penjaga gawang Manchester United menjadi salah satu pahlawan pada proses evakuasi tersebut. Pihak otoritas penerbangan Jerman Barat yang melakukan investigasi sempat mengeluarkan pernyataan bahwa kapten Thain sebagai pihak yang bersalah karena tidak membersihkan es yang melekat pada sayap pesawat. Namun berdasar penuturan para saksi yang menyebut serpihan es sebagai penyebab pesawat gagal terbang; kondisi cuaca kemudian disebut sebagai alasan kecelakaan pesawat tersebut. Kapten James Thain kemudian dinyatakan bersih dari kasus tersebut tahun 1968 atau 10 tahun setelah kejadian.

Manchester United tengah berusaha mencatatkan diri sebagai klub ketiga yang memenangkan gelar Liga Inggris secara berturut – turut pada waktu itu. Pada saat itu tim Manchester United berada di peringkat kedua klasemen sementara liga; di belakang Wolverhampton Wanderers dengan 14 laga yang masih tersisa. Setelah menyingkirkan Red Star Belgrade pada laga perempat final; tim asuhan Matt Busby juga lolos ke semifinal Piala Eropa dua kali berturut – turut.

Manchester United pada waktu itu dipimpin oleh manajer Matt Busby dan memiliki julukan ‘The Busby Babes” merupakan salah satu generasi emas Manchester United yang mencatat 11 laga tanpa kalah pada musim tersebut. Kecelakaan yang menewaskan 8 orang pemain Manchester United tersebut telah menghapus harapan Manchester United dan juga tim nasional Inggris untuk memiliki tim impian. Geoff Bent, Roger Byrne, Eddie Colman, Mark Jones, David Pegg, Tommy Taylor dan Liam “Billy” Whelan tewas di tempat kejadian. Sedangkan Duncan Edwards meninggal 15 hari kemudian setelah menerima perawatan di rumah sakit. Terdapat 23 korban meninggal pada kecelakaan tersebut dan 21 orang selamat. Bobby Charlton dan Matt Busby merupakan dua tokoh penting di klub Manchester United yang selamat pada kecelakaan tersebut. Johny Berry dan Jackie Blanchflower yang selamat pada kecelakaan itu tidak pernah bermain lagi di lapangan hijau.

Tragedi Chapecoense Menuju Final Sudamericana Cup 2016

Tragedi Chapecoense Menuju Final Sudamericana Cup 2016

Tidak banyak orang yang tahu mengenai klub asal Brazil Chapecoense; hal tersebut dapat dimaklumi mengingat klub tersebut bukanlah klub besar dengan segudang prestasi atau pernah melahirkan pemain – pemain bintang. Chapecoense sebagai sebuah klub mengawali kiprah mereka di dunia sepakbola Brazil sebagai klub amatir dan baru mencapai divisi itama pada tahun 2013 lalu. Salah satu peluang terbesar bagi Chapecoense untuk tercatat dalam tinta emas sejarah sepakbola Brazil didapat ketika mereka lolos ke partai final turnamen Sudamericana. Partai final tersebut dijadwalkan berlangsung di Medellin melawan Atletico Nacional dari Kolombia. Sayang partai tersebut urung terlaksana karena tim Chapocoense mengalami kecelakan pada saat menuju Medellin.

Kecelakaan yang dialami tim Chapocoense terjadi ketika pesawat Avro RJ85 dengan nomor seri E.2348 yang mengangkut 73 penumpang dan 4 kru mengalami kecelakaan menabrak gunung Cerro Gordo pada ketinggian 8.500 kaki. Akibat tabrakan tersebut pesawat terbelah menjadi dua dan menyebabkan 71 orang meninggal dunia meski tidak terjadi ledakan ataupun kebakaran. Pesawat tersebut berangkat dari Viru Viru International Airport di kota Santa Cruz dela Sierra, Bolivia menuju Jose Maria Cordova International Airpot di dekat kota Rjonegro, Kolombia.

Pihak otoritas penerbangan nasional Brazil (ANAC) sebelumnya telah menolak permintaan Chapecoense untuk menggunakan pesawat charter LaMia untuk melakukan penerbangan langsung dari Sao Paulo menuju Medellin. Pihak ANAC hanya menyetujui pesawat yang dikelola maskapai penerbangan Brazil atau Kolombia untuk melakukan penerbangan langsung antara kedua negara tersebut; sedangkan LaMia merupakan maskapai penerbangan dari Bolivia. Pihak maskapai penerbangan kemudian mengatur penerbangan dari Sao Paulo menuju Medellin dengan transit di Santa Cruz de la Sierra. Maskapai penerbangan LaMia sebelumnya telah digunakan oleh beberapa tim sepakbola; termasuk tim nasional Argentina yang juga terbang dengan pesawat yang sama 18 hari sebelum kecelakaan. (Mau tahu aturan dasar dalam bermain sepak bola? Klik disini)

Kecelakaan tersebut merupakan kerugian besar bagi klub Chapocoense yang telah memiliki tim tangguh di musim kompetisi tersebut. Terdapat 19 pemain Chapocoense yang tewas pada kecelakaan tersebut dan terdapat 3 pemain yang selamat dari kecelakaan. Alan Ruschel, Jakson Follman dan Neto merupakan 3 pemain yang selamat. Penjaga gawang Danilo sempat menelepon istrinya setelah kecelakaan; namun kemudian meninggal ketika dirawat di rumah sakit. Kecelakaan tersebut membawa duka mendalam bagi publik Brazil yang dikenal sebagai negara sepakbola. Bendera Brazil dan Mercosur dikibarkan setengah tiang di depan beberapa gedung pemerintahan. Banyak klub Amerika Selatan yang menunjukkan duka cita atas tragedi tersebut dengan mengenakan emblem Chapocoense di seragam yang dikenakan pada pertandingan. Ada pula tim yang mengenakan seragam Chapocoense atau mengenakan seragam berwarna hijau. Setelah kecelakaan tersebut; Chapocoense dinyatakan sebagai juara Copa Sudamericana dan berhak berlaga di Copa Libertadores 2017. Chapocoense menjalani pertandingan di Copa Libertadores dengan skuad yang terdiri dari para pemain muda akademi, pemain pinjaman dan pemain rekrutan dengan status free agent serta dua pemain yang selamat dari kecelakaan penerbangan LAMIA 2933.

Please follow and like us:

Comments

(0 Comments)

Your email address will not be published. Required fields are marked *